Sekiranya saat ini kita merasa gagal dalam menggapai impian kita. Cobalah mengingat kembali masa lalu, saat kita merasa begitu percaya diri dan bersemangat – apa saja, misalnya : hari kelulusan, naik jabatan, sukses menutup penjualan, atau kelahiran anak pertama. Rasakan aliran pengalaman itu sekali lagi. Lihat dan dengar. Rasakan setiap detail peristiwa. Resapi kekuatan yang ada diri kita pada waktu mengalami peristiwa tersebut. Lalu yang terpenting, sering mengingatnya. Putarlah kembali film masa lalu kita, buka lagi file-file yang ada di memori kita. Lakukanlah perenungan lebih dalam lagi apa yang menyebabkan mimpi-mimpi dan cita-cita itu bisa diraih. Aktivitas apa saja yang sudah dilakukan dimasa lalu. Setelah itu ambillah langkah perubahan melalui tindakan. Melangkahlah keluar dari keterkungkungan yang menyelimuti diri dan fikiran kita yang berujung terpenjara diri dalam kehidupan. Kita adalah apa yang kita pikirkan. Jika kita berpikir sukses maka pikiran kita akan memandu kita menuju sukses. Jika kita sudah melempar hati kita nun jauh di sana maka seluruh tubuh pun akan mengikutinya. Jika kita sudah menancapkan satu tonggak keyakinan untuk sukses maka seluruh jiwa raga ini pun akan mengikuti menuju tonggak tersebut.
Saat kita memerlukan kekuatan yang membantu kita merasa lebih percaya diri dan bersemangat, kembalilah ke momen tersebut dan rasakan lagi. Maka, kita akan memperoleh semangat untuk hari ini dan masa mendatang. Ulangi lagi setiap kita membutuhkannya. Masa lalu meyediakan sumber tak terbatas untuk diri kita. Gunakan untuk relaksasi, cinta dan komunikasi yang lebih baik. Masa lalu kita adalah tambang berharga agar hidup lebih hidup lagi.
Temuilah teman-teman yang punya ambisi, visi dan misi yang sama-sama ingin meraih sukses. Bergabunglah dengan orang-orang yang positif. Perbanyaklah aktivitas dan lakukan terus sambil melakukan renungan. Jangan lupa tulis tiap kejadian baik suka mau pun duka.
Mari kita tancapkan tonggak sejarah kehidupan sekarang juga. Jangan putus asa, lakukan yang terbaik
Salam Bisa dan sukses untuk kita semua.
Berani mimpi, berani coba, berani gagal dan berani menerima keberhasilan.
Follow me at twitter : @suparjo
HP 0815 1049 1015
email : suparjo at ymail.com
http://jojobisa.blogspot.com/
Posted in Tak Berkategori
Percepatan diri bukan dimaknai secara lahir yang berarti kita melakukan sesuatu lebih cepat, seperti lari paling cepat, jalan paling cepat, makan paling cepat, mandi paling cepat dan bahkan tidur paling cepat
. Tapi hendaknya dimaknai secara batin dengan spirit kita berbuat seperti seorang pelari maraton yang harus berlari dalam jarak jauh. Ia akan seefisien mungkin mengelola setiap sumber daya yang dimilikinya dan menjauhkan diri dari kemubaziran. Orang yang efisien adalah orang yang memiliki pandangan jauh ke depan. Percepatan diri bisa diartikan bahwa kita dalam hidup ini harus mengejar berbagai ketertinggalan yang ada dalam diri kita, terutama ilmu. Hanya ilmu lah yang bisa membuat orang bahagia di dalam kehidupan ini, bahkan sampai akhir hayat kelak. Singkatnya harus punya visi dan misi yang jelas.
“Barang siapa ingin hidup bahagia di dunia maka cari lah ilmu, barang siapa ingin hidup bahagia di akhirat maka carilah ilmu, barang siapa ingin hidup bahagia di dunia dan akhirat maka carilah ilmu”.
Ada 3 langkah yang bisa dilakukan menuju percepatan menurut versi penulis :
- Membaca. Membaca aneka buku biasanya akan mendapat pencerahan baru. Membaca juga sarana percepatan untuk menghadapi hidup, namun tidak semua ilmu yang kita inginkan harus kita jalani sendiri karena akan habis waktu. Hidup itu terbatas, kita mendiami satu tubuh, satu pikiran, dan melihat dunia dengan sepasang mata. Melalui membaca dunia kita menjadi lebih terbuka. Kita menjadi lebih terbuka tidak terbatas karena dapat menggunakan “mata” (pikiran) orang lain yang tersebar di mana-mana. Kemahiran membaca seharusnya tidak dipandang remeh karena hal tersebut akan meningkatkan pemahaman dengan lebih berkesan. Oleh karena itu teknik membaca yang banar sangat penting dalam proses pembelajaran. Mari budayakan membaca, sehingga kita bisa memandang kehidupan ini semakin luas. Banyak orang punya pengelihatan tapi belum tentu punya pandangan. Melalui budaya membaca, pandangan kita akan semakin luas dan tidak bertumpu pada satu titik sudut pandang.
- Silaturahmi. Bersilaturahmilah, sebab disinilah letak pertukaran ilmu dan berbagi pengetahuan terjadi. “If you have an apple and I have an apple and we exchange apples then you and I will still each have one apple. But if you have an idea and I have an idea and we exchange these ideas, then each of us will have two ideas.” (George Bernard Shaw (1856-1950) Irish Author & Playwright )
- Tafakur. melalui perenungan dengan melihat kejadian alam. Kisah “Ibnu Hajar dan Batu” berikut ini mungkin bisa menjadi inspirasi bagi kita. Ibnu Hajar Al-’Asqalani, karena dianggap nalarnya tidak bisa mengikuti pelajaran, maka oleh Dewan Guru dikeluarkan dari sekolah. Ditengah kesedihan, ketika ‘Asqalani sedang berjalan, ia melihat air yang menetes ke atas sebuah batu. Tetesan air yang sekali-sekali itu ternyata bisa membuat permukaan batu itu menjadi cekung dibuatnya. Ibnu Hajar berkata kepada dirinya sendiri “Batu saja bisa berlubang karena ditetesi air setiap hari. Berarti otak/kepala saya bisa juga kalo dimasuki ilmu setiap hari“. Dia pun segera menemui gurunya dan menjelaskan peristiwa yang baru dilihatnya itu. Singkatnya si Guru berkenan untuk menerimanya sebagai murid. Dengan semangat itu, As Qalani belajar terus dengan sabar dan kemauan yang kuat. Sejarah mencatat berkat kemauan belajarnya yang membaja kelak ia berhasil menjadi seorang ulama besar yang amat disegani pada zamannya. Ibnu Hajar yang bermakna “batu” di depan namanya, merupakan kenang-kenangan yang diperolehnya dan sekrang banyak dikenal banyak orang sebagai Imam dan Ulama’ Ahlussunnah yang mensyarahkan Shohih Bukhori dengan Kitab Fatul Bari’nya. Nama Ibnu Hajar Al-Atsqolani adalah nama yang sudah tidak asing lagi, seorang ulama besar di abad sembilan, pakar hadits dan fikih.
Mari lakukan percepatan diri sekarang juga. Semoga dengan tulisan ini bisa menjadi inspirasi buat kita semua…Salam Bisa!!!
(Ditulis sembari menyusun skripsi dan mencari inspirasi untuk desain web)
Follow me at twitter : @suparjo
HP : 0815 10491015
Tags: Kontemplasi
Posted in Tak Berkategori
Menangislah dengan orang yang menangis, tertawalah dengan orang yang tertawa. Hal itu berarti menunjukkan sikap empati dan kebesaran hati ketika berhadapan dengan orang lain yang sedang dirundung penderitaan.
Kebesaran hati seseorang tidak diukur dari besarnya badan, tingginya jabatan, banyaknya harta atau popularitas seseorang. Salah satu aspek yang menunjukkan kebesaran hati seseorang adalah pada saat ia rela dan ikhlas bersama-sama dengan orang-orang yang tidak beruntung untuk berbagi kasih dan kepedulian. Orang yang memiliki kebesaran hati mampu merasakan apa yang dirasakan orang lain. Inilah yang disebut pengertian empati tersebut. Empati berasal dari bahasa Yunani, em- dan pathein, yang secara harfiah berarti ikut merasakan atau menderita. Kata Yunani emphateia berarti suka dengan perasan kasih sayang. Itulah sebabnya, empati ini sebenarnya adalah upaya membuka perasaan seseorang agar semakin peka dan tajam pada kondisi sosial dan emosional orang lain.
Salam Bisa!!!
Posted in Tak Berkategori
\”Orang besar adalah mereka yang sadar bahwa faktor spiritual lebih kuat daripada kekuatan materi.\”
Sebuah survei belum lama ini oleh John Naisbitt, pengarang Megatrends 2000, menunjukkan bahwa untuk pertama kalinya dalam sejarah semakin banyak orang pindah dari kota-kota besar ke kawasan hunian di daerah pinggiran kota; dari daerah pinggiran ke kawasan hunian eksklusif di pegunungan atau pantai indah, dan dari kawasan peristirahatan ke daerah pedalaman. Semua itu lebih banyak dibanding orang-orang yang pindah ke perkotaan.
Mengapa demikian? Sebab menurut laporan, mereka entah bagaimana merasa seperti “kehilangan” jiwa maka mereka perlu menjalin kembali kontak dengan diri sendiri, dengan Alam, dan dengan rasa kebersamaan manusiawi yang mereka rindukan. Mereka ingin menikmati Hidup yang Berkualitas; hidup yang memberi, bukannya hidup yang menguras spirit mereka.
Bersamaan dengan itu, dunia seperti sedang mengalami masa Renaisance baru. Di hampir semua negara, semakin banyak galeri-galeri seni baru, gedung-gedung konser baru, dan museum-museum baru. Dan di banyak negara, dibanding dalam masa-masa sebelum kini, semakin banyak orang mempelajari seni musik, menggambar, melukis, menulis kreatif, teater, dan menari (baik professional maupun hanya untuk kaesenangan pribadi).
Kini kita hidup pada awal Abad Ke-21, Abad Intelektual, dan Milenium Pikiran, dalam suatu dunia yang tengah mengubah diri dari zaman kegelapan ke abad kesadaran, perkembangan, dan pencerahan spiritual. Kita bagian dalam proses tersebut.
“Orang besar adalah mereka yang sadar bahwa faktor spiritual lebih kuat daripada kekuatan materi.”
(Ralph Waldo Emerson)
Taken from : the power of spiritual intelligence - tony buzan
Posted in Tak Berkategori
“Jika kita ingin melihat pelangi yang indah, kita harus bersabar menanti redanya hujan,”
Sebuah nasihat dari ilmuwan india, Dr. Manmohan Singh, tampaknya patut untuk diingat. Beliau bertutur, Tuhan menganugerahiku ketenangan untuk menerima hal-hal yang tidak dapat kuubah, keberanian untuk mengubah hal-hal yang dapat kuubah, dan kebajikan untuk mengetahui perbedaannya.”
Kehidupan terbentuk bukan karena kita memegang kartu yang baik, melainkan karena memainkan dengan baik kartu yang kita pegang, Berarti yang penting bagaiamana kita “memainkan” kehidupan ini dengan cantik dan harmonis dalam koridor dinamika suka dan duka.
Dengan demikian, apa yang dikira masalah dan beban justru dapat menjadi media yang baik untuk melakukan transformasi diri. Begitu transformasi sudah terjadi, kita akan bersyukur kepada Sang Pencipta akan hadirnya goncangan tersebut, karena sesungguhnya membuat kehidupan kita menjadi lebih baik lagi. Bahkan, kenangan peristiwa yang telah mengubah arah hidup kita dapat dijadikan sebagai tugu peringatan hidup yang manis.
Cara pandang yang optimis memang akan membuat hidup kita tegar dan tabah serta senantiasa penuh harapan. “Jika kita ingin melihat pelangi yang indah, kita harus bersabar menanti redanya hujan,” demikian Promod Brata bersenandung dalam bukunya Born to Win (2002).
Salam Bisa……!!!
Jojo Suparjo
email : suparjo at ymail.com
HP. 0815 1049 1015
Posted in Tak Berkategori
Antusiasme adalah kata yang indah, berasal dari bahasa Yunani enthousiazein (dimiliki oleh Tuhan) dan entheos (Tuhan menyemangati). Terjemahan harfiahnya adalah “Tuhan di dalam diri kita”. Dan empat huruf terakhir dari antusiasme (enthusiasm), IASM, adalah singkatan dari I Am Sold Myself, Saya Memasrahkan Diri. Antusias akan sesuatu, entah berupa konsep atau barang, atau bahkan orang lain, berarti : saya memasrahkan diri, tanpa keraguan. Dengan antusiasme dan keyakinan semacam itu datanglah kekuatan Tuhan yang menjadikan segala yang tidak mungkin menjadi mungkin.
Dalam keyakinan agama yang saya anut pun sudah jelas hal tersebut dinamakan Taqwa. Taqwa sendiri mempunyai arti menjauhi segala larangan Allah dan berusaha dengan segala kemampuan daya upaya untuk menjalankan segala perintah-Nya.
Allah sendiri sudah bersabda dalam Alquran yang artinya barang siapa bertaqwa maka akan diberikan jalan kemudahan yang tidak disangka-sangka.
Semangat dalam hidup mutlak harus kita miliki. Sebab hanya dengan dilandasi semangat maka kita bisa bergerak. Tidak ada sesuatu yang tidak mungkin untuk kita raih di kehidupan ini. Dengan niat yang sungguh-sungguh dan penuh keyakinan disertai Positive Mental Attitude. Insya Allah kesuksesan dapat kita raih…. Salam BISA… Luar Biasa.
Sent from my BlackBerry®powered by Sinyal Kuat INDOSAT
Posted in Tak Berkategori
Posted in Tak Berkategori
Sering kita mendengar kata syukur. Banyak juga kata ini diucapkan oleh manusia di muka bumi ini. Namun syukur ini masih diartikan oleh sebagian banyak manusia juga secara sempit. Sebagian besar makna syukur ini diidentikkan dengan kesuksesan yang sifatnya materi. Jarang sekali manusia bersyukur dikala dalam kesusahan atau kekurangan materi. Padahal kalau kita renungi hal-hal yang menyedihkan semestinya patut kita syukuri pula. Hidup yang sudah tidak menentu kadang senang kadang sedih, semuanya ada akhirnya. Maka bersyukurlah kita masih diuji. Apa pun yang terjadi batasnya diketahui.
Barang siapa bersykur pada Allah maka akan bertambah nikmatnya, sebaliknya bila kufur kepada Allah, maka siksa Allah amat lah pedih.
Sungguh ajaib orang beriman. Manakala ditimpa musibah dan kemalangan dia bersabar. Ketika mendapat kesenangan atau kebahagiaan, dia bersyukur. Tidak ada yang jelek dalam menyikapi keduanya dan pasti Allah sudah menjanjikan surga.
Posted in Religius
“Sesungguhnya manusia diciptakan besifat keluh kesah lagi kikir.
Apabila ia ditimpa kesusahan ia berkeluh kesah. Dan apabila ia
mendapat kebaikan ia amat kikir. Kecuali orang-orang yang mengerjakan
shalat.”(QS. Al-Ma’arij:19- 22)
Harus diakui kebanyakan dari kita senantiasa berkeluh kesah jika
menerima cobaan dari Allah. Tidak mengherankan karena dalam Al-Quran
Allah sendiri telah berfirman”Sesungguh nya manusia diciptakan besifat
keluh kesah lagi kikir. Apabila ia ditimpa kesusahan ia berkeluh
kesah. Dan apabila ia mendapat kebaikan ia amat kikir. Kecuali
orang-orang yang mengerjakan shalat.”(QS. Al-Ma’arij:19- 22)
Sifat dasar manusia memang selalu berkeluh kesah. Bila kita diberi
hujan yang cukup lebat, kita mengeluh kerena menimbulkan banjir.
Ketika hujan tidak turun dalam waktu yang panjang, kita juga mengeluh
karena kekeringan. Ketika kita ditakdirkan hidup dalam kemiskinan,
kita mengeluh ingin kaya. Namun, setelah Allah menganugerahkan
kekayaan, kita juga mengeluh karena begitu banyak keinginan yang
belum bisa tercapai.
Padahal, sebagai seorang muslim sifat seperti itu tidak perlu ada.
Karena dalam ayat tersebut terdapat pengecualian, yaitu orang-orang
yang shalat akan terhindar dari sifat keluh kesah itu. Jika shalat
sudah didirikan, namun sifat buruk itu terus melekat, maka hendaklah
seorang muslim memperbaiki kekhusyukan dalam shalatnya. Wallahu’alam bishawab.
Posted in Religius
Terpetik sebuah kisah, seorang pemburu berangkat ke hutan dengan membawa busur dan tombak. Dalam hatinya dia berkhayal mau membawa hasil buruan yang paling besar, yaitu seekor rusa. Cara berburunya pun tidak pakai anjing pelacak atau jaring penyerat, tetapi menunggu di balik sebatang pohon yang memang sering dilalui oleh binatang-binatang buruan.
Tidak lama ia menunggu, seekor kelelawar besar kesiangan terbang hinggap di atas pohon kecil tepat di depan si pemburu. Dengan ayunan parang atau pukulan gagang tombaknya, kelelawar itu pasti bisa diperolehnya. Tetapi si pemburu berpikir, “untuk apa merepotkan diri dengan seekor kelelawar? Apakah artinya dia dibanding dengan seekor rusa besar yang saya incar?”
Tidak lama berselang, seekor kancil lewat. Kancil itu sempat berhenti di depannya bahkan menjilat-jilat ujung tombaknya tetapi ia berpikir, “Ah, hanya seekor kancil, nanti malah tidak ada yang makan, sia-sia.” Agak lama pemburu menunggu. Tiba-tiba terdengar langkah-langkah kaki binatang mendekat, pemburupun mulai siaga penuh,tetapi ternyata, ah… kijang. Ia pun membiarkannya berlalu. Lama sudah ia menunggu, tetapi tidak ada rusa yang lewat, sehingga ia tertidur.
Baru setelah hari sudah sore, rusa yang ditunggu lewat. Rusa itu sempat berhenti di depan pemburu, tetapi ia sedang tertidur. Ketika rusa itu hampir menginjaknya, ia kaget. Spontan ia berteriak, Rusa!!!” sehingga rusanya pun kaget dan lari terbirit-birit sebelum sang pemburu menombaknya. Alhasil ia pulang tanpa membawa apa-apa.
Banyak orang yang mempunyai idealisme terlalu besar untuk memperoleh sesuatu yang diinginkannya. Ia berpikir yang tinggi-tinggi dan bicaranya pun terkadang sulit dipahami. Tawaran dan kesempatan-kesempatan kecil dilewati begitu saja, tanpa pernah berpikir bahwa mungkin di dalamnya ia memperoleh sesuatu yang berharga. Tidak jarang orang orang seperti itu menelan pil pahit karena akhirnya tidak mendapatkan apa-apa.
Demikian juga dengan seseorang yang mengidamkan pasangan hidup, yang mengharapkan seorang gadis cantik atau perjaka tampan yang alim, baik, pintar dan sempurna lahir dan batin, harus puas dengan tidak menemukan siapa-siapa.
Posted in Phylosophy
Search
Featured Video
Komentar Terakhir
Hot Topics
Tags
Kategori
- Tak Berkategori (7)
- Religius (2)
- Phylosophy (2)
Arsip
- April 2011 (2)
- Februari 2011 (3)
- Januari 2011 (2)
- Desember 2008 (1)
- Nopember 2008 (3)
0
Comments