SUPARJO GO BLOG

Knowledge is Power

Bersyukurlah Kita Masih Diuji

Filed under: Religius — suparjo at 11:06 am on Tuesday, December 2, 2008

Sering kita mendengar kata syukur. Banyak juga kata ini diucapkan oleh manusia di muka bumi ini. Namun syukur ini masih diartikan oleh sebagian banyak manusia juga secara sempit. Sebagian besar makna syukur ini diidentikkan dengan kesuksesan yang sifatnya  materi. Jarang sekali manusia bersyukur dikala  dalam kesusahan  atau kekurangan materi. Padahal kalau kita renungi hal-hal yang menyedihkan  semestinya patut kita syukuri  pula.  Hidup yang sudah  tidak menentu kadang senang kadang sedih, semuanya ada akhirnya. Maka bersyukurlah kita masih diuji. Apa pun yang terjadi batasnya diketahui.

Barang siapa bersykur pada Allah maka akan bertambah nikmatnya, sebaliknya bila kufur kepada Allah, maka siksa Allah amat lah pedih.

Sungguh ajaib orang beriman. Manakala ditimpa musibah dan kemalangan dia bersabar.  Ketika mendapat kesenangan atau kebahagiaan, dia bersyukur. Tidak ada yang jelek dalam menyikapi keduanya dan pasti Allah sudah menjanjikan surga.

KELUH KESAH MANUSIA

Filed under: Religius — suparjo at 10:42 pm on Tuesday, November 25, 2008

“Sesungguhnya manusia diciptakan besifat keluh kesah lagi kikir.
Apabila ia ditimpa kesusahan ia berkeluh kesah. Dan apabila ia
mendapat kebaikan ia amat kikir. Kecuali orang-orang yang mengerjakan
shalat.”(QS. Al-Ma’arij:19- 22)

Harus diakui kebanyakan dari kita senantiasa berkeluh kesah jika
menerima cobaan dari Allah. Tidak mengherankan karena dalam Al-Quran
Allah sendiri telah berfirman”Sesungguh nya manusia diciptakan besifat
keluh kesah lagi kikir. Apabila ia ditimpa kesusahan ia berkeluh
kesah. Dan apabila ia mendapat kebaikan ia amat kikir. Kecuali
orang-orang yang mengerjakan shalat.”(QS. Al-Ma’arij:19- 22)

Sifat dasar manusia memang selalu berkeluh kesah. Bila kita diberi
hujan yang cukup lebat, kita mengeluh kerena menimbulkan banjir.
Ketika hujan tidak turun dalam waktu yang panjang, kita juga mengeluh
karena kekeringan. Ketika kita ditakdirkan hidup dalam kemiskinan,
kita mengeluh ingin kaya. Namun, setelah Allah menganugerahkan
kekayaan, kita juga mengeluh karena begitu banyak keinginan yang
belum bisa tercapai.

Padahal, sebagai seorang muslim sifat seperti itu tidak perlu ada.
Karena dalam ayat tersebut terdapat pengecualian, yaitu orang-orang
yang shalat akan terhindar dari sifat keluh kesah itu. Jika shalat
sudah didirikan, namun sifat buruk itu terus melekat, maka hendaklah
seorang muslim memperbaiki kekhusyukan dalam shalatnya. Wallahu’alam bishawab.

Berpikir Sederhana

Filed under: Phylosophy — suparjo at 4:18 pm on Friday, November 14, 2008

Terpetik sebuah kisah, seorang pemburu berangkat ke hutan dengan membawa busur dan tombak. Dalam hatinya dia berkhayal mau membawa hasil buruan yang paling besar, yaitu seekor rusa. Cara berburunya pun tidak pakai anjing pelacak atau jaring penyerat, tetapi menunggu di balik sebatang pohon yang memang sering dilalui oleh binatang-binatang buruan.

Tidak lama ia menunggu, seekor kelelawar besar kesiangan terbang hinggap di atas pohon kecil tepat di depan si pemburu. Dengan ayunan parang atau pukulan gagang tombaknya, kelelawar itu pasti bisa diperolehnya. Tetapi si pemburu berpikir, “untuk apa merepotkan diri dengan seekor kelelawar? Apakah artinya dia dibanding dengan seekor rusa besar yang saya incar?”

Tidak lama berselang, seekor kancil lewat. Kancil itu sempat berhenti di depannya bahkan menjilat-jilat ujung tombaknya tetapi ia berpikir, “Ah, hanya seekor kancil, nanti malah tidak ada yang makan, sia-sia.” Agak lama pemburu menunggu. Tiba-tiba terdengar langkah-langkah kaki binatang mendekat, pemburupun mulai siaga penuh,tetapi ternyata, ah… kijang. Ia pun membiarkannya berlalu. Lama sudah ia menunggu, tetapi tidak ada rusa yang lewat, sehingga ia tertidur.

Baru setelah hari sudah sore, rusa yang ditunggu lewat. Rusa itu sempat berhenti di depan pemburu, tetapi ia sedang tertidur. Ketika rusa itu hampir menginjaknya, ia kaget. Spontan ia berteriak, Rusa!!!” sehingga rusanya pun kaget dan lari terbirit-birit sebelum sang pemburu menombaknya. Alhasil ia pulang tanpa membawa apa-apa.

Banyak orang yang mempunyai idealisme terlalu besar untuk memperoleh sesuatu yang diinginkannya. Ia berpikir yang tinggi-tinggi dan bicaranya pun terkadang sulit dipahami. Tawaran dan kesempatan-kesempatan kecil dilewati begitu saja, tanpa pernah berpikir bahwa mungkin di dalamnya ia memperoleh sesuatu yang berharga. Tidak jarang orang orang seperti itu menelan pil pahit karena akhirnya tidak mendapatkan apa-apa.

Demikian juga dengan seseorang yang mengidamkan pasangan hidup, yang mengharapkan seorang gadis cantik atau perjaka tampan yang alim, baik, pintar dan sempurna lahir dan batin, harus puas dengan tidak menemukan siapa-siapa.

Melanggar teori Maslow

Filed under: Phylosophy — suparjo at 8:41 pm on Friday, November 7, 2008

Secara garis besar teori Maslow dibagi menjadi dua yaitu kebutuhan dasar dan kebutuhan pertumbuhan. Kebutuhan dasar terdiri dari kecukupan fisiologis, keselamanatan dan keamanan. Sedangkan kebutuhan pertumbuhan terdiri dari keterlibatan dan hubungan sosial, harga diri dan aktualisasi diri.Sebenarnya, sebelum meninggal Maslow sadar bahwa teori yang dibuatnya harusnya dibalik. Sebab dengan piramida yang selama ini dianut banyak orang seluruh dunia, menyebabkan banyak orang menjadi serakah dan tamak sebab kehidupan orang hanya akan mengejar kebutuhan dasar yang terdiri dari fisiologis, keselamatan dan keamanan. Sehingga ketika kebutuhan dasar belum terpenuhi, akan merasa tidak punya kekuatan untuk mengoptimalkan kebutuhan pertumbuhan yang didalamnya ada unsur keterlibatan dan hubungan sosial, harga diri, dan aktualisasi.Seharusnya teori Maslow dilanggar saja, salah satunya dengan cara membalik piramida teori Maslow menjadi kebutuhan pertumbuhan yang didalamnya ada aktualisasi diri, harga diri, keterlibatan dan hubungan sosial. Kemudian dilanjutkan kebutuhan dasar yang terdiri dari keamanan dan keselamatan serta kecukupan fisiologis.

Jadi, kalau kita ingin berkecukupan secara fisiologi, dimulai dulu memperbaiki rasa aktualisasi diri secara optimal, maka akan menumbuhkan harga diri dalam menghadapi hidup, ketika sudah punya harga diri, kita akan punya kemampuan keterlibatan dan hubungan sosial. Baru setelah itu kita akan aman menghadapi hidup, punya keselamatan dan Insya Allah fisiologis kita dengan sendirinya terpenuhi.

Selama kita berpegang pada teori Maslow yang menempatkan kebutuhan dasar harus terpenuhi dulu baru kemudian kebutuhan-kebutuhan lain akan bisa dilakukan, maka bagi kita yang belum terpenuhi kebutuhan dasarnya, akan terjebak pemenuhan kebutuhan dasar terus dan kesulitan mengoptimalkan aktualisasi diri.Tetapi kalau kita berani melanggar teori Maslow, walaupun kita belum terpenuhi kebutuhan dasar, asal kita mau sungguh-sungguh mengaktualisasikan diri, maka kebutuhan-kebutuhan lainnya akan terpenuhi dengan sendirinya, termasuk kebutuhan dasarnya.

Dengan membalik teori Maslow, maka rumus kehidupan kita akan menjadi �Permanis gula, maka semut akan datang sendiri�. Intinya, optimalkan dulu potensi diri kita walaupun masih banyak kekurangan kebutuhan dasar, maka kebutuhan dasar dengan sendirinya akan terpenuhi.

Sahabat,

Dunia sudah berubah, maka kita juga harus berani berubah, salah satu bentuk perubahannya adalah melanggar teori Maslow dengan salah satu caranya adalah membalik tioerinya yang selama ini dianut banyak orang Berani hadapi tantangan melanggar teori Maslow ??? Bagaimana pendapat sahabat !!

Masrukhul Amri : Seorang Knowledge Entrepreneur-pengusaha gagasan, bertempat tinggal di hp. 0812-2329518, Aktivitas sehari-hari sebagai Konsultan Manajemen Stratejik-Alternatif dan Director The Life University; Reengineering Mindsets - Unlocking Potential Power, TIM Daarut Tauhiid Bandung, sampai sekarang mengasuh acara MQ Enlightenment di 102.7 MQ FM.

Spesialis konsultasi alternatif di beberapa perusahaan nasional dan multi nasional, MBA-Main Bersama Amri di CyberMQ dan dosen tamu di beberapa perguruan tinggi di Bandung dan luar Bandung. Mottonya adalah mari sama-sama belajar menjadi yang terbaik. e-mail :   Comments (0)

IT Dibalik Sepotong Roti

Filed under: IT — suparjo at 11:19 pm on Sunday, November 2, 2008

Cepat, akurat dan efisien. Itu lah manfaat yang dirasakan PT Nippon Indosari Corpindo dari implementasi SAP FastCPG

Sari Roti. Merek ini mungkin sudah sangat akrab di telinga Anda. Dan mungkin juga, bersama secangkir kopi atau teh, merek tersebut lah yang sering kali menemani sarapan pagi Anda.

Berbagai jenis varian Sari Roti memang begitu mudah di dapatkan. Dari hipermarket hingga warung kelontong menjual produk PT Nippon Indosari Corpindo (NIC) ini yang telah berdiri sejak September 1996. Tapi, tahu kah Anda bahwa proses dibalik hadirnya roti empuk nan lezat di meja makan Anda tersebut tergolong cukup rumit. “Roti merupakan produk yang life cycle nya sangat pendek,” ungkap Yusuf Hady, General Manager NIC.

Dengan karateristik produk yang seperti itu, maka kecepatan mutlak dibutuhkan oleh NIC. Termasuk juga dalam hal pengadaan bahan baku, produksi, sampai distribusi. “Karena itu kami membutuhkan informasi yang cepat (real time) dan akurat untuk meningkatkan manajemen supply chain, meningkatkan perencanaan produksi sehingga meminimalkan barang kembali, serta meminimalkan sisa proses produksi. Apalagi kami berproduksi 24 jam, 7 hari seminggu dan libur produksi setahun paling satu hari,” ujar Yusuf. “IT menjadi salah satu sarana yang bisa menjembatani kebutuhan tersebut,” tambahnya.

Untuk itu, sejak 1 Juni 2006, perusahaan yang juga memproduksi roti dengan merek Boti ini mulai mengimplementasikan SAP FastCPG, solusi berbasis Best Practice mySAP All-In-One yang khusus dikembangkan METRODATA untuk industri Consumer Product Goods termasuk makanan dan minuman. Dengan SAP FastCPG maka waktu implementasi akan lebih pendek, sehingga biaya keseluruhan dapat dihemat. Alex Honki, Project Manager NIC, menjelaskan, selain karena brand SAP sudah sangat dikenal, alasan NIC memilih SAP FastCPG karena dinilai mampu mempercepat proses perubahan yang tengah digulirkan oleh perusahaannya. “Lagi pula, sudah banyak perusahaan manufaktur yang menggunakan solusi SAP,” ujarnya.

Yusuf menambahkan, selama ini, NIC yang memiliki pabrik di Kawasan Industri Jababeka, Cikarang Bekasi, dan di Kawasan Industri Pasuruan, Jawa Timur ini, menghadapi persoalan dari proses bisnis yang tidak terintegrasi, transaksi pada umumnya masih dijalankan secara manual (paper bassed), masing-masing bagian memiliki sistem sendiri-sendiri sehingga ada banyak database. Duplikasi data, kesalahan input data, serta proses konsolidasi data menjadi tantangan besar. “Dengan implementasi ini semua proses tersebut menjadi terintegrasi dengan satu database dan dapat memberikan informasi yang lebih cepat serta akurat,” ujarnya.

Dalam proses implementasinya, NIC dibantu oleh METRODATA. Alex mengatakan, alasan NIC memilih METRODATA sebagai partner implementasi adalah karena NIC banyak mendapat informasi tentang pengalaman perusahaan ini yang telah sukses melakukan implementasi SAP di berbagai perusahaan, serta kemampuan konsultan dan project manager yang dimiliki METRODATA tidak perlu diragukan lagi. Alex menyebutkan bahwa sebelum memilih METRODATA, NIC juga melakukan beauty contest terhadap beberapa perusahaan implementasi SAP lainnya.

Sejak 1 Januari 2007 lalu, solusi SAP FastCPG telah beroperasi secara penuh (go live) di perusahaan ini. Saat ini, modul yang digunakan oleh perusahaan ini meliputi modul-modul ini, seperti Sales and Distribution, Material Managemen, Finance, Production Planing serta Controling. Walau mengaku terlalu dini untuk menyajikan manfaat dalam angka, namun Yusuf merasa puas dari hasil implementasi yang sudah mereka rasakan. Dia mengatakan, saat ini hampir semua proses bisnis yang ada sudah terintegrasi, supply chain berjalan dengan baik, dan yang paling penting adalah manajemen dapat memperoleh informasi yang cepat dan akurat. “Sangat membantu, khususnya dalam pembuatan rencana produksi dan juga sales serta pengukuran Key Performance Indicator,” ungkapnya.

Selain itu, manfaat lain yang dirasakan oleh NIC adalah berkurangnya pekerjaan-pekerjaan yang sifatnya administratif, sehingga karyawan juga dapat bekerja dengan lebih efisien, order pun telah bisa dilayani online melalui aplikasi web. “Karyawan di tingkat supervisor bisa lebih fokus pada kegiatan analisa ketimbang menangani administrasi dan transaksi,” ungkap Alex. Dia menyebutkan, NIC mampu menghemat jumlah SDM nya hingga 1,86% secara keseluruhan.

Source :

 http://www.metrodata.co.id/news/shownews.asp?id=592&cat=13

 
    Web blogdetik